Digital Insights • Capacity Building
Publish date
March 15, 2026
Updated on
March 15, 2026

Blended Learning Corporate Training: Strategi, Model, dan Contoh Implementasi

Table of Content :

Perubahan cara kerja di perusahaan mendorong transformasi pada program pelatihan karyawan yang awalnya mengandalkan kelas tatap muka penuh, kini tidak efektif untuk menjangkau tim yang tersebar di berbagai lokasi atau memiliki jadwal kerja yang dinamis.

Di sisi lain, pembelajaran digital sering kali tidak mampu menggantikan nilai interaksi manusia dalam proses belajar. Diskusi langsung, simulasi kasus, serta mentoring tetap menjadi bagian penting agar karyawan benar benar memahami konteks pekerjaan mereka.

Di titik inilah blended learning corporate training menjadi pendekatan yang semakin banyak digunakan oleh organisasi modern. Metode ini menggabungkan pembelajaran digital dengan sesi tatap muka terstruktur sehingga proses pelatihan dapat berlangsung fleksibel namun tetap mendalam.

Apa Itu Blended Learning Corporate Training?

Blended learning corporate training adalah metode pelatihan karyawan yang mengombinasikan pembelajaran daring dengan sesi tatap muka dalam satu program yang terintegrasi. Kedua pendekatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dirancang saling melengkapi sehingga karyawan dapat belajar secara mandiri sekaligus mendapatkan pengalaman belajar langsung bersama mentor atau fasilitator.

Dalam praktiknya, pembelajaran daring biasanya digunakan untuk menyampaikan materi dasar seperti konsep, teori, atau pengenalan topik tertentu. Materi ini dapat diakses kapan saja melalui learning management system atau platform pembelajaran digital.

Setelah karyawan memahami konsep dasar secara mandiri, sesi tatap muka digunakan untuk memperdalam pemahaman melalui diskusi, studi kasus, simulasi pekerjaan, atau praktik langsung.

Pendekatan tersebut juga sangat relevan untuk mendukung hybrid training karyawan, terutama bagi organisasi yang memiliki tim di berbagai lokasi atau mengadopsi pola kerja fleksibel.

Mengapa Blended Learning Semakin Banyak Digunakan dalam Pelatihan Karyawan?

Salah satu alasan utama metode ini semakin populer adalah kemampuannya meningkatkan keterlibatan peserta pelatihan. Penelitian yang dipublikasikan oleh Brandon Hall Group menunjukkan bahwa program pelatihan yang menggunakan kombinasi pembelajaran digital dan tatap muka dapat meningkatkan keterlibatan peserta hingga sekitar 35% dibandingkan metode tradisional yang hanya menggunakan satu format pembelajaran saja.

Selain meningkatkan keterlibatan, pendekatan ini juga membantu perusahaan mengoptimalkan biaya pelatihan. 

Manfaat tersebut muncul karena perusahaan dapat mengurangi biaya perjalanan, logistik, serta waktu operasional yang biasanya dibutuhkan untuk pelatihan konvensional.

Secara lebih luas, penggunaan blended learning corporate training memberikan sejumlah keuntungan strategis bagi organisasi.

Pendekatan ini membantu perusahaan mencapai beberapa hal penting berikut.

Pertama, meningkatkan fleksibilitas belajar bagi karyawan.

  • Karyawan dapat mempelajari materi dasar secara mandiri melalui platform digital.
  • Materi pelatihan dapat diakses kembali kapan saja sebagai referensi kerja.
  • Proses belajar dapat menyesuaikan dengan jadwal kerja yang dinamis.

Kedua, memperkuat pemahaman melalui pengalaman langsung.

  • Sesi tatap muka memungkinkan diskusi mendalam mengenai studi kasus nyata di perusahaan.
  • Karyawan dapat mempraktikkan keterampilan baru melalui simulasi atau latihan kelompok.
  • Mentor dapat memberikan umpan balik secara langsung.

Ketiga, mendukung pembelajaran berkelanjutan di organisasi.

  • Program pelatihan tidak berhenti setelah satu sesi kelas selesai.
  • Materi tambahan dapat terus diberikan melalui platform digital.
  • Perusahaan dapat memantau perkembangan keterampilan karyawan melalui data pembelajaran.

Model Blended Learning yang Umum Digunakan dalam Corporate Training

Tidak semua organisasi menerapkan blended learning dengan cara yang sama. Setiap perusahaan biasanya memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan pelatihan, karakteristik karyawan, serta jenis keterampilan yang ingin dikembangkan.

Beberapa model blended learning yang paling sering digunakan dalam pelatihan perusahaan meliputi pendekatan berikut.

Flex Model

Dalam model ini, pembelajaran digital menjadi komponen utama program pelatihan. Karyawan mempelajari sebagian besar materi melalui platform daring, sementara sesi tatap muka digunakan sebagai dukungan tambahan.

Biasanya sesi tatap muka difokuskan pada mentoring, diskusi kelompok kecil, atau penyelesaian tantangan yang membutuhkan bimbingan langsung dari fasilitator.

Pendekatan ini cocok untuk organisasi dengan jumlah peserta pelatihan yang besar atau tim yang tersebar di berbagai wilayah.

Rotation Model

Model rotasi membagi proses pelatihan menjadi beberapa tahap yang dijalani secara bergantian oleh peserta.

Peserta biasanya mengikuti pola belajar tertentu, misalnya:

  • belajar mandiri melalui modul digital
  • diskusi kelompok kecil
  • sesi pelatihan bersama instruktur
  • praktik atau simulasi pekerjaan

Dengan sistem rotasi ini, peserta tidak hanya menerima materi secara pasif tetapi juga aktif terlibat dalam berbagai bentuk aktivitas belajar.

Self Blend Model

Dalam model ini, pelatihan tatap muka tetap menjadi fondasi utama program. Namun perusahaan memberikan kesempatan bagi karyawan untuk menambahkan materi pembelajaran digital secara mandiri sesuai kebutuhan mereka.

Model ini sering digunakan untuk program pengembangan profesional jangka panjang di mana karyawan memiliki kebebasan memperluas kompetensi mereka melalui berbagai kursus digital.

Baca juga: Macam-Macam Tipe dan Metode Pelatihan Karyawan

Strategi Implementasi Blended Learning dalam Pelatihan Perusahaan

Keberhasilan program blended learning corporate training tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan. Perusahaan juga perlu merancang strategi implementasi yang tepat agar proses belajar benar benar memberikan dampak terhadap kinerja karyawan.

Beberapa pendekatan berikut sering digunakan oleh organisasi untuk memastikan program blended learning berjalan efektif.

Menggunakan Pendekatan Flipped Classroom

Dalam pendekatan ini, materi teori diberikan terlebih dahulu melalui modul pembelajaran digital. Peserta mempelajari konsep dasar sebelum mengikuti sesi tatap muka.

Ketika sesi kelas berlangsung, waktu pelatihan difokuskan pada aktivitas yang lebih aplikatif seperti analisis studi kasus, diskusi kelompok, dan simulasi masalah bisnis.

Strategi ini membantu meningkatkan kualitas interaksi dalam sesi tatap muka karena peserta sudah memiliki pemahaman awal mengenai topik yang dipelajari.

Memanfaatkan Learning Management System

Platform learning management system memainkan peran penting dalam mengelola program blended learning.

Melalui sistem ini, perusahaan dapat:

  • mendistribusikan materi pelatihan secara terstruktur
  • memantau progres pembelajaran setiap peserta
  • mengukur tingkat penyelesaian kursus
  • menganalisis efektivitas program pelatihan

Data yang dihasilkan dari sistem ini juga membantu tim HR atau learning and development mengevaluasi program pelatihan secara lebih objektif.

Baca juga: 11 Pelatihan & Kursus AI Terbaik untuk Karyawan

Menyusun Komposisi Pembelajaran yang Seimbang

Program blended learning yang efektif biasanya tidak sepenuhnya bergantung pada satu metode pembelajaran saja.

Beberapa organisasi menerapkan komposisi pembelajaran yang relatif seimbang antara sesi daring dan tatap muka. Misalnya sekitar 60 persen materi disampaikan melalui pembelajaran digital dan 40 persen melalui aktivitas pelatihan langsung.

Proporsi tersebut dapat disesuaikan dengan jenis keterampilan yang dilatih. Program pelatihan teknis mungkin membutuhkan lebih banyak praktik langsung, sementara pelatihan berbasis konsep dapat lebih banyak dilakukan secara daring.

Contoh Implementasi Blended Learning di Perusahaan

Sejumlah perusahaan besar telah menerapkan pendekatan blended learning dalam program pengembangan karyawan mereka.

Salah satu contoh datang dari perusahaan telekomunikasi Indonesia, yaitu Telkom Indonesia. Perusahaan ini mengembangkan platform pembelajaran internal yang mengombinasikan modul digital dengan sesi pelatihan tatap muka untuk program pengembangan kepemimpinan.

Karyawan mempelajari konsep kepemimpinan melalui materi digital terlebih dahulu. Setelah itu mereka mengikuti workshop dan sesi diskusi yang berfokus pada penerapan konsep tersebut dalam konteks organisasi.

Contoh lain dapat ditemukan di perusahaan multinasional seperti Unilever. Dalam program pengembangan keterampilan manajerial, perusahaan ini memadukan pembelajaran digital melalui platform internal dengan sesi coaching kelompok dan workshop tatap muka.

Pendekatan ini membantu memastikan bahwa karyawan tidak hanya memahami konsep kepemimpinan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi kerja sehari hari.

Baca juga: Corporate Soft Skills Training: Kunci Meningkatkan Kinerja dan Kolaborasi Tim

Tantangan dalam Implementasi Blended Learning

Meskipun memiliki banyak keunggulan, implementasi blended learning tetap menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan oleh perusahaan.

Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan literasi digital di antara karyawan. Tidak semua peserta pelatihan terbiasa menggunakan platform pembelajaran digital, terutama di organisasi dengan tenaga kerja lintas generasi.

Selain itu, keberhasilan program blended learning juga sangat bergantung pada stabilitas teknologi yang digunakan. Gangguan jaringan, sistem pembelajaran yang tidak user friendly, atau materi digital yang kurang menarik dapat menurunkan efektivitas pelatihan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, perusahaan biasanya melakukan beberapa langkah berikut.

  1. Memberikan sesi orientasi penggunaan platform pembelajaran sebelum program pelatihan dimulai.
  2. Memastikan materi digital dirancang secara interaktif agar peserta tetap terlibat selama proses belajar.
  3. Memanfaatkan data analitik dari sistem pembelajaran untuk memantau tingkat partisipasi dan memahami area yang perlu diperbaiki.

Dengan pendekatan yang tepat, tantangan tersebut dapat dikelola sehingga program blended learning tetap memberikan dampak positif bagi organisasi.

Baca juga: Pelatihan AI Generatif Karyawan Non-IT untuk Meningkatkan Produktivitas Tim

Bagaimana BINAR Capacity Building Mendukung Blended Learning Corporate Training

Program pelatihan karyawan yang efektif membutuhkan lebih dari sekadar modul pembelajaran. Perusahaan juga membutuhkan mitra yang mampu merancang kurikulum pelatihan sesuai dengan kebutuhan bisnis serta perkembangan keterampilan yang relevan di dunia kerja.

Melalui program BINAR Capacity Building, perusahaan dapat mengembangkan program blended learning corporate training yang dirancang secara khusus untuk kebutuhan organisasi.

Pendekatan yang digunakan mencakup beberapa komponen penting.

  • pemetaan kompetensi untuk mengidentifikasi keterampilan yang perlu dikembangkan oleh karyawan
  • modul pembelajaran digital interaktif yang dapat diakses secara fleksibel
  • sesi workshop atau pelatihan tatap muka untuk memperdalam praktik keterampilan
  • mentoring dan coaching dari praktisi industri

Dengan kombinasi tersebut, perusahaan tidak hanya memberikan pelatihan satu arah kepada karyawan, tetapi menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendukung peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.

Pendekatan ini juga membantu organisasi memastikan bahwa setiap program pelatihan benar benar berkontribusi terhadap peningkatan kinerja tim dan pertumbuhan bisnis secara keseluruhan.

Perubahan cara kerja di perusahaan mendorong transformasi pada program pelatihan karyawan yang awalnya mengandalkan kelas tatap muka penuh, kini tidak efektif untuk menjangkau tim yang tersebar di berbagai lokasi atau memiliki jadwal kerja yang dinamis.

Di sisi lain, pembelajaran digital sering kali tidak mampu menggantikan nilai interaksi manusia dalam proses belajar. Diskusi langsung, simulasi kasus, serta mentoring tetap menjadi bagian penting agar karyawan benar benar memahami konteks pekerjaan mereka.

Di titik inilah blended learning corporate training menjadi pendekatan yang semakin banyak digunakan oleh organisasi modern. Metode ini menggabungkan pembelajaran digital dengan sesi tatap muka terstruktur sehingga proses pelatihan dapat berlangsung fleksibel namun tetap mendalam.

Apa Itu Blended Learning Corporate Training?

Blended learning corporate training adalah metode pelatihan karyawan yang mengombinasikan pembelajaran daring dengan sesi tatap muka dalam satu program yang terintegrasi. Kedua pendekatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dirancang saling melengkapi sehingga karyawan dapat belajar secara mandiri sekaligus mendapatkan pengalaman belajar langsung bersama mentor atau fasilitator.

Dalam praktiknya, pembelajaran daring biasanya digunakan untuk menyampaikan materi dasar seperti konsep, teori, atau pengenalan topik tertentu. Materi ini dapat diakses kapan saja melalui learning management system atau platform pembelajaran digital.

Setelah karyawan memahami konsep dasar secara mandiri, sesi tatap muka digunakan untuk memperdalam pemahaman melalui diskusi, studi kasus, simulasi pekerjaan, atau praktik langsung.

Pendekatan tersebut juga sangat relevan untuk mendukung hybrid training karyawan, terutama bagi organisasi yang memiliki tim di berbagai lokasi atau mengadopsi pola kerja fleksibel.

Mengapa Blended Learning Semakin Banyak Digunakan dalam Pelatihan Karyawan?

Salah satu alasan utama metode ini semakin populer adalah kemampuannya meningkatkan keterlibatan peserta pelatihan. Penelitian yang dipublikasikan oleh Brandon Hall Group menunjukkan bahwa program pelatihan yang menggunakan kombinasi pembelajaran digital dan tatap muka dapat meningkatkan keterlibatan peserta hingga sekitar 35% dibandingkan metode tradisional yang hanya menggunakan satu format pembelajaran saja.

Selain meningkatkan keterlibatan, pendekatan ini juga membantu perusahaan mengoptimalkan biaya pelatihan. 

Manfaat tersebut muncul karena perusahaan dapat mengurangi biaya perjalanan, logistik, serta waktu operasional yang biasanya dibutuhkan untuk pelatihan konvensional.

Secara lebih luas, penggunaan blended learning corporate training memberikan sejumlah keuntungan strategis bagi organisasi.

Pendekatan ini membantu perusahaan mencapai beberapa hal penting berikut.

Pertama, meningkatkan fleksibilitas belajar bagi karyawan.

  • Karyawan dapat mempelajari materi dasar secara mandiri melalui platform digital.
  • Materi pelatihan dapat diakses kembali kapan saja sebagai referensi kerja.
  • Proses belajar dapat menyesuaikan dengan jadwal kerja yang dinamis.

Kedua, memperkuat pemahaman melalui pengalaman langsung.

  • Sesi tatap muka memungkinkan diskusi mendalam mengenai studi kasus nyata di perusahaan.
  • Karyawan dapat mempraktikkan keterampilan baru melalui simulasi atau latihan kelompok.
  • Mentor dapat memberikan umpan balik secara langsung.

Ketiga, mendukung pembelajaran berkelanjutan di organisasi.

  • Program pelatihan tidak berhenti setelah satu sesi kelas selesai.
  • Materi tambahan dapat terus diberikan melalui platform digital.
  • Perusahaan dapat memantau perkembangan keterampilan karyawan melalui data pembelajaran.

Model Blended Learning yang Umum Digunakan dalam Corporate Training

Tidak semua organisasi menerapkan blended learning dengan cara yang sama. Setiap perusahaan biasanya memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan pelatihan, karakteristik karyawan, serta jenis keterampilan yang ingin dikembangkan.

Beberapa model blended learning yang paling sering digunakan dalam pelatihan perusahaan meliputi pendekatan berikut.

Flex Model

Dalam model ini, pembelajaran digital menjadi komponen utama program pelatihan. Karyawan mempelajari sebagian besar materi melalui platform daring, sementara sesi tatap muka digunakan sebagai dukungan tambahan.

Biasanya sesi tatap muka difokuskan pada mentoring, diskusi kelompok kecil, atau penyelesaian tantangan yang membutuhkan bimbingan langsung dari fasilitator.

Pendekatan ini cocok untuk organisasi dengan jumlah peserta pelatihan yang besar atau tim yang tersebar di berbagai wilayah.

Rotation Model

Model rotasi membagi proses pelatihan menjadi beberapa tahap yang dijalani secara bergantian oleh peserta.

Peserta biasanya mengikuti pola belajar tertentu, misalnya:

  • belajar mandiri melalui modul digital
  • diskusi kelompok kecil
  • sesi pelatihan bersama instruktur
  • praktik atau simulasi pekerjaan

Dengan sistem rotasi ini, peserta tidak hanya menerima materi secara pasif tetapi juga aktif terlibat dalam berbagai bentuk aktivitas belajar.

Self Blend Model

Dalam model ini, pelatihan tatap muka tetap menjadi fondasi utama program. Namun perusahaan memberikan kesempatan bagi karyawan untuk menambahkan materi pembelajaran digital secara mandiri sesuai kebutuhan mereka.

Model ini sering digunakan untuk program pengembangan profesional jangka panjang di mana karyawan memiliki kebebasan memperluas kompetensi mereka melalui berbagai kursus digital.

Baca juga: Macam-Macam Tipe dan Metode Pelatihan Karyawan

Strategi Implementasi Blended Learning dalam Pelatihan Perusahaan

Keberhasilan program blended learning corporate training tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan. Perusahaan juga perlu merancang strategi implementasi yang tepat agar proses belajar benar benar memberikan dampak terhadap kinerja karyawan.

Beberapa pendekatan berikut sering digunakan oleh organisasi untuk memastikan program blended learning berjalan efektif.

Menggunakan Pendekatan Flipped Classroom

Dalam pendekatan ini, materi teori diberikan terlebih dahulu melalui modul pembelajaran digital. Peserta mempelajari konsep dasar sebelum mengikuti sesi tatap muka.

Ketika sesi kelas berlangsung, waktu pelatihan difokuskan pada aktivitas yang lebih aplikatif seperti analisis studi kasus, diskusi kelompok, dan simulasi masalah bisnis.

Strategi ini membantu meningkatkan kualitas interaksi dalam sesi tatap muka karena peserta sudah memiliki pemahaman awal mengenai topik yang dipelajari.

Memanfaatkan Learning Management System

Platform learning management system memainkan peran penting dalam mengelola program blended learning.

Melalui sistem ini, perusahaan dapat:

  • mendistribusikan materi pelatihan secara terstruktur
  • memantau progres pembelajaran setiap peserta
  • mengukur tingkat penyelesaian kursus
  • menganalisis efektivitas program pelatihan

Data yang dihasilkan dari sistem ini juga membantu tim HR atau learning and development mengevaluasi program pelatihan secara lebih objektif.

Baca juga: 11 Pelatihan & Kursus AI Terbaik untuk Karyawan

Menyusun Komposisi Pembelajaran yang Seimbang

Program blended learning yang efektif biasanya tidak sepenuhnya bergantung pada satu metode pembelajaran saja.

Beberapa organisasi menerapkan komposisi pembelajaran yang relatif seimbang antara sesi daring dan tatap muka. Misalnya sekitar 60 persen materi disampaikan melalui pembelajaran digital dan 40 persen melalui aktivitas pelatihan langsung.

Proporsi tersebut dapat disesuaikan dengan jenis keterampilan yang dilatih. Program pelatihan teknis mungkin membutuhkan lebih banyak praktik langsung, sementara pelatihan berbasis konsep dapat lebih banyak dilakukan secara daring.

Contoh Implementasi Blended Learning di Perusahaan

Sejumlah perusahaan besar telah menerapkan pendekatan blended learning dalam program pengembangan karyawan mereka.

Salah satu contoh datang dari perusahaan telekomunikasi Indonesia, yaitu Telkom Indonesia. Perusahaan ini mengembangkan platform pembelajaran internal yang mengombinasikan modul digital dengan sesi pelatihan tatap muka untuk program pengembangan kepemimpinan.

Karyawan mempelajari konsep kepemimpinan melalui materi digital terlebih dahulu. Setelah itu mereka mengikuti workshop dan sesi diskusi yang berfokus pada penerapan konsep tersebut dalam konteks organisasi.

Contoh lain dapat ditemukan di perusahaan multinasional seperti Unilever. Dalam program pengembangan keterampilan manajerial, perusahaan ini memadukan pembelajaran digital melalui platform internal dengan sesi coaching kelompok dan workshop tatap muka.

Pendekatan ini membantu memastikan bahwa karyawan tidak hanya memahami konsep kepemimpinan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi kerja sehari hari.

Baca juga: Corporate Soft Skills Training: Kunci Meningkatkan Kinerja dan Kolaborasi Tim

Tantangan dalam Implementasi Blended Learning

Meskipun memiliki banyak keunggulan, implementasi blended learning tetap menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan oleh perusahaan.

Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan literasi digital di antara karyawan. Tidak semua peserta pelatihan terbiasa menggunakan platform pembelajaran digital, terutama di organisasi dengan tenaga kerja lintas generasi.

Selain itu, keberhasilan program blended learning juga sangat bergantung pada stabilitas teknologi yang digunakan. Gangguan jaringan, sistem pembelajaran yang tidak user friendly, atau materi digital yang kurang menarik dapat menurunkan efektivitas pelatihan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, perusahaan biasanya melakukan beberapa langkah berikut.

  1. Memberikan sesi orientasi penggunaan platform pembelajaran sebelum program pelatihan dimulai.
  2. Memastikan materi digital dirancang secara interaktif agar peserta tetap terlibat selama proses belajar.
  3. Memanfaatkan data analitik dari sistem pembelajaran untuk memantau tingkat partisipasi dan memahami area yang perlu diperbaiki.

Dengan pendekatan yang tepat, tantangan tersebut dapat dikelola sehingga program blended learning tetap memberikan dampak positif bagi organisasi.

Baca juga: Pelatihan AI Generatif Karyawan Non-IT untuk Meningkatkan Produktivitas Tim

Bagaimana BINAR Capacity Building Mendukung Blended Learning Corporate Training

Program pelatihan karyawan yang efektif membutuhkan lebih dari sekadar modul pembelajaran. Perusahaan juga membutuhkan mitra yang mampu merancang kurikulum pelatihan sesuai dengan kebutuhan bisnis serta perkembangan keterampilan yang relevan di dunia kerja.

Melalui program BINAR Capacity Building, perusahaan dapat mengembangkan program blended learning corporate training yang dirancang secara khusus untuk kebutuhan organisasi.

Pendekatan yang digunakan mencakup beberapa komponen penting.

  • pemetaan kompetensi untuk mengidentifikasi keterampilan yang perlu dikembangkan oleh karyawan
  • modul pembelajaran digital interaktif yang dapat diakses secara fleksibel
  • sesi workshop atau pelatihan tatap muka untuk memperdalam praktik keterampilan
  • mentoring dan coaching dari praktisi industri

Dengan kombinasi tersebut, perusahaan tidak hanya memberikan pelatihan satu arah kepada karyawan, tetapi menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendukung peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.

Pendekatan ini juga membantu organisasi memastikan bahwa setiap program pelatihan benar benar berkontribusi terhadap peningkatan kinerja tim dan pertumbuhan bisnis secara keseluruhan.

Find Another article

Table of Content
arrow down

Connect With Us Here

Our representative team will contact you soon
BINAR Contribution to SDG’s Impact
Promenade 20, Unit L, Jl. Bangka Raya No.20,

Kec. Mampang Prapatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12720
021 397 11642
info@binar.co.id
Promenade 20, Unit L, Jl. Bangka Raya No.20,

Kec. Mampang Prapatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12720
021 397 11642
© 2016 - 2026, PT. Lentera Bangsa Benderang
Follow us in Social Media
Youtube IconInstagram IconFacebook  IconLinkedIn  Icon
Hi! 👋🏼  
Kamu bisa konsultasi kebutuhanmu di BINAR via WhatsApp ya