78,0 → 80,9
Skor pre/post test (+2,9)
100%
Kehadiran, 35 peserta
4,61/5,0
Kepuasan peserta
Kalau perusahaan Anda sedang mempertimbangkan pelatihan AI untuk karyawan, kemungkinan besar pertanyaannya bukan lagi "perlu atau tidak". Pertanyaannya: mulai dari mana, materinya seperti apa, dan bagaimana memastikan hasilnya tidak berhenti di sertifikat.
Artikel ini menjawab lewat salah satu study case bagaimana program AI training untuk perusahaan yang diikuti tim Marketing & Communication JPL Jasaprima Logistik, anak usaha BULOG.
Tim marketing di hampir semua organisasi mengalami hal yang sama: kanal makin banyak, format konten makin beragam, tapi jumlah orang tidak bertambah. AI jelas terlihat sebagai jawaban dan biasanya perusahaan merespons dengan membeli lisensi tools.
Lalu tidak terjadi apa-apa. Hal ini, bukan karena timnya malas. Biasanya karena tiga hal sederhana:
1. belum ada yang menunjukkan cara pakai AI untuk pekerjaan mereka
2. belum ada standar menilai output AI yang layak pakai untuk brand, dan
3. belum ada alur kerja bersama, jadi AI berhenti sebagai eksperimen pribadi satu-dua orang.
Di sinilah banyak program pelatihan AI untuk perusahaan tersandung. Materi "pengenalan AI" yang sama diberikan ke semua klien, padahal tim finance, tim marketing, dan tim operasional punya pekerjaan yang sama sekali berbeda. Peserta pulang paham apa itu AI, tapi besok paginya tetap bekerja dengan cara lama. Karena tidak ada satu pun latihan yang terasa seperti pekerjaannya sendiri.
Kasus JPL BULOG menarik justru karena kebalikannya: programnya disusun setelah memahami situasi bisnisnya.
JPL sedang menghadapi tiga tantangan spesifik: (1) membangun identitas online yang kredibel, (2) menjaga pesan brand tetap konsisten di banyak cabang, dan (3) kapasitas produksi konten yang terbatas. Dari tiga tantangan itulah materi trainingnya dibentuk.
Tiga sesi dalam dua hari (total 9 jam), semuanya di wilayah kerja tim Marcomm: prompting untuk kebutuhan marketing, optimasi konten social media, dan strategi digital marketing. Tools yang dipakai pun tools yang memang akan mereka pakai sehari-hari, ChatGPT, Gemini, Claude untuk teks dan strategi, Canva AI untuk visual.
Peserta bermain roleplay sebagai klien dan tim social media, menyusun konten Instagram untuk brand JPL sendiri, membuat storyboard visual, sampai sprint membangun mini campaign dari ide sampai konten siap publish. Latihannya memakai brand sendiri, jadi hasil latihan bisa langsung dipakai setelah program selesai.
Sebelum mulai, peserta mengikuti pre-test. Materi selanjutnya akan disusun berdasarkan pemahaman yang dimiliki perserta. Lalu setelah program, post-test dengan instrumen yang sama.

Angka yang paling jujur di sini sebenarnya kehadiran. Training internal biasanya menghadapi drop-off di sesi kedua atau ketiga, orang "izin meeting" kalau materinya terasa tidak berguna. Di program ini 35 peserta hadir penuh sampai selesai, dan 80% menilai workshopnya engaging dengan konsep baru yang relevan. Relevansi materi sendiri dinilai 4,66 dari 5.
Dari cerita ini ada tiga hal yang layak dibawa ke diskusi internal Anda:
Prinsip yang sama berlaku untuk fungsi apa pun marketing, operasional, HR, atau finance. Yang berubah hanya use case-nya. Itulah kenapa pendekatan AI Training Perusahaan yang Customized dimulai dari memahami kebutuhan bisnis dulu, baru menyusun materi.
Diskusikan kebutuhan AI Training Customized untuk tim Anda bersama BINAR.
Kursus AI mengajarkan konsep umum. Pelatihan AI untuk perusahaan yang efektif dirancang dari kebutuhan bisnis dan pekerjaan tim, di JPL BULOG, seluruh latihan memakai konten dan brand perusahaan sendiri.
Bervariasi sesuai kebutuhan. Program JPL BULOG berjalan 9 jam dalam 2 hari (3 sesi), cukup untuk membawa tim dari prompting sampai mampu membuat konten end-to-end.
dipercaya oleh +1.000 klien yang puas dan terkesan